Latest Updates
Showing posts with label Balita. Show all posts
Showing posts with label Balita. Show all posts

Kenapa Balita 18 Bulan keatas belum bisa Berjalan? Berikut informasinya

Kondisi normal, usia 12 bulan anak anda sudah bisa berjalan. Meskipun kemampuan berjalan pada setiap anak-anak berbeda beda. Ada anak yang mengalami kemampuan yang lebih awal, yaitu pada usia 8 bulan atau ada pula yang lebih dari 12 bulan. Selama dalam rentan usia yang wajar anak anda tidak digolongkan pada kategori sulit berjalan. Sedangkan apabila anak anda telah mencapai usia 18 bulan dan masih belum bisa berjalan maka anda harus khawatir. Mungkinkah anak anda mengalami kesulitan berjalan?
Pada usia 15-18 bulan masih dalam dalam rentan waktu yang normal apabila anak anda mengalami kesulitan berjalan akan tetapi apabila melebihi usia 18 bulan sebaiknya melakukan pemeriksaan untuk mengetahui gangguan yang dialami anak. Umumnya berhubungan dengan gangguan motorik kasar yang mengganggu keseimbangan sehingga lebih baik melakukan stimulasi semenjak dini sebelum terlambat.
Dalam tahap perkembangan motorik setiap anak berbeda-beda. Walaupun demikian penting bagi orang tua untuk melakukan stimulasi yang dapat membantu dalam memberikan rangsangan dasar dalam perkembangan motorik anak. Kemampuan anak berjalan diawali dengan beberapa tahapan diantaranya adalah diawali kemampuan pada usia 12-18 bulan yang berjalan-jalan dengan menggunakan bantuan atau kemampuan anak berjalan 5-15 menit tanpa bantuan. Sedangkan pada usia 18 hingga 24 bulan anak anda sudah dapat berjalan tanpa mengalami kesulitan.

Hal ini yang menyebabkan ibu bertanya-tanya mengapa anak di usia 18 bulan belum bisa berjalan, banyak sekali penyebabnya diantaranya adalah :

1. Kamatangan saraf
Gerakan motorik pada anak sangat ditentukan oleh kematangan saraf untuk mengatur gerakan. Saat anak anda dilahirkan memang saraf masih belum berkembang sesuai dengan fungsi akan tetapi pertumbuhan yang optimal dengan stimulasi yang sesuai maka akan mempersiapkan kematang saraf hingga menunjang kegiatan motorik.
2. Keseimbangan yang terganggu
Keseimbangan yang terganggu dapat disebabkan karena anak mengalami dysfunction of sensory integration (DSI). Gangguan ini ditandai dengan ketakutan anak ketika melakukan aktivitas misalnya seperti saat berenang, menaiki mainan yang bergoyang atau kegiatan lainnya. Bahkan anak mengalami kesulitan dalam memegang kepalanya ketika sedang duduk, mengalami gangguan ketika sedang beraktivitas, gerakan yang canggung atau disertai dengan keterlambatan dalam aktivitas.
3. Gangguan sensoris
Keterlambatan berjalan pada anak yang berusia lebih dari 18 tahun dapat dikarenakan aan mengalami sensitif pada kaki atau tangan. Pada anak yang mengalami gangguan sensitif maka anak anda akan mengalami berjalan jinjit atau seringkali mengalami jatuh saat berdiri yang umumnya anak seusianya sudah bisa berjalan dan berlari.Anak yang mengalmi gangguan sensoris terkadang membuat anda gelisah dan tidak nyaman bahkan seringkali mengalami gangguan terhadap cahaya dan suara.
4. Kendala psikologis
Anak yang tidak megalami masalah fisik kemungkinan mengalami masalah psikologi yang berhubungan dengan pola asuh , trauma atau kebiasaan anak yang tidak diberikan stimulasi. Dengan demikian penting sekali melakukan pengamatan yang dapat membantu memantau perkembangan motorik anak anda terlebih dari pola asuh anda untuk mengamati rentan waktu yang sesuai dengan kemampuan anak dalam mengembangkan gerakan motorik .

Tips Mencegah Penularan Sakit Mata Pada Balita

Penyakit mata pada balita memang tidak berbahaya akan tetapi sangat mengganggu kenyamanan aktifitasnya. Penyakit mata digolongkan pada salah satu penyakit menular, atau dikenal dengan konjungtivitis yang dapat menyerang segala usia, tidak terkecuali pada usia balita. Salah satu tanda balita yang sedang mengalami sakit mata adalah peradangan selaput mata yang tipis dibagian kelopak mata. Pada balita gejala awal sakit mata (konjungtivitis) tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, warna bagian putih mata menjadi merah, lebih sering mengeluarkan air bahkan pada pagi hari balita sulit membuka matanya. Penyebab utama dari penyakit mata adalah bakteri dan virus, sehingga sangat mudah menular.

Konjungtivitis atau pink eye meskipun bukan penyakit yang serius akan tetapi sangat mudah menular. Ketika balita anda mengalami penyakit mata (konjungtivitis) biasanya sering kali menangis dan mengeluhkan perih dan rasa gatal yang tidak tertahankan. Bahkan dalam kondisi yang parah akan memicu sakit kepala, mual, muntah dan juga mendapati pandangan yang kabur. Penyakit mata ((konjungtivitis) sebenarnya dapat sembuhnya dengan sendirinya akan tetapi pada balita sering kali tidak dapat menahan rasa gatal sehingga mengucek oleh tangganya, hal ini yang menyebabkan debu, kuman dan virus memperparah kondisi mata sehingga sulit sembuh dengan sendirinya. Adapun untuk anda yang mempunyai anak diusia balita, apabila teman atau anggota keluarga sedang menderita sakit mata (konjungtivitis) sebaiknya melakukan beberapa pencegahan agar tidak tertular sakit mata.

Berikut adalah tips mencegah penularan sakit mata pada balita :
1.    Membatasi kontak langsung
Apabila anggota keluarga anda menderita sakit mata (konjungtivitis) sebaiknya hindari bersentuhan langsung dengan balita. Hal ini untuk mengurangi resiko penularan sakit mata pada balita. Penyakit mata dapat juga menyebar melalui batuk dan bersin oleh penderita ke balita. Hingga cara paling yang aman adalah membatasi kontak secara langsung dengan penderita.
2.    Hindari kontak dengan benda benda milik penderita
Penyakit mata (konjungtivitis) sangat mudah sekali menular dari penderita ke orang lain, termasuk pada balita. Hindari kontak dengan benda benda milik penderita, salah satu contohnya adalah sapu tangan, kacamata atau handuk. Hal ini berhubungan dengan dengan penyebaran virus dan bakteri yang sangat mudah menyebar dan menempel pada benda-benda yang telah digunakan penderita.
3.    Jaga kebersihan di tempat umum
Ketika mengajak anak anda berenang di kolam berenang umum, resiko terkena penyakit mata (konjungtivitis) semakin tinggi. Hal ini dikarenakan air di dalam kolam renang yang terkontaminasi oleh bakteri atau virus penyebab sakit mata akan menular pada pengguna kolam renang, tidak terkecuali pada balita.
4.    Hindari cairan yang keluar dari mata penderita (konjungtivitis)
Hindari cairan langsung yang keluar dari penderita (konjungtivitis), para ahli menemukan pengaruh yang sangat besar dari cairan yang keluar dari penderita terhadap penyebaran penyakit mata yang menular. Bahkan pada kondisi klimaks, cairan pada mata akan mengering (belek) sehingga menyebabkan terjadinya pengerasan kulit di ujung kelopak mata.

Oleh karena itu,semua pencegahan sakit mata (konjungtivitis) pada balita  sangat berhubungan dengan kebiasaan hidup sehat terutama membiasakan mencuci tangan ketika akan menyentuh mulut, hidung dan mata. Penanganan yang lebih lanjut dapat segera menghubungi dokter apabila kondisi anak anda mengalami rasa sakit yang tidak tertahankan, terjadi masalah dengan penglihatannya atau disertai dengan demam yang tinggi.

Tips Mengajari Balita Mengunyah Makanan

Anda seringkali jengkel dengan kebiasaan anak anda malas mengunyah sehingga ketika sedang mengkonsumsi makanan bukannya habis malah menumpuk di mulutnya. Bahkan karena waktu makan balita lama disebabkan oleh malasnya mengunyah membuat anak anda cepat bosan ketika sedang makan. Hal ini membutuhkan cara untuk mengajarkan anak anda mengunyah makanan apalagi anak anda sudah memiliki gigi susu yang cukup banyak. Dalam artikel ini kami akan berbagi mengenai tips mengajarkan balita mengunyah makanan.

Mengunyah makanan salah satu keterampilan makanan yang harus dimiliki balita. Keterampilan anak terdiri dari mengunyah dan menelan. Tentu saja keterampilan dalam mengunyah dan menelan pada balita membutuhkan waktu untuk membuatnya terbiasa. Keterampilan mengunyah dan menelan tidak secara otomatis dapat dimiliki oleh anak anda seiring bertambahnya usia. Keterampilan dalam mengunyah dan menelan makanan dapat diajarkan secara bertahap pada anak anda dengan melakukan stimulasi yang sesuai.

1. Pemberian makanan secara bertahap
Pemberian makanan secara bertahap merupakan salah satu stimulasi yang dapat dilakukan oleh anda untuk melatih keterampilan makan anak. Dengan memberikan makanan pada bayi secara tepat waktu yaitu pada usia  bayi 6 bulan, mampu melatih kemampuan mengisap dan menelan.Sehingga makanan yang tepat pada usia 6 bulan adalah makanan dengan tekstur yang lembut dan memiliki proporsi air yang lebih banyak.
2. Tesktur makanan yang diberikan pada bayi
Pemberian stimulasi pertama kali pada usia 6 bulan pada bayi dapat diberikan dengan cara melatih mengunyah dan memberikan stimulasi dengan tektur makanan. Anda dapat memberikan stimulasi dari makanan lembut menuju makanan yang kasar. Tentu saja ini memerlukan waktu adaptasi untuk bayi anda, maka makanan bayi dapat digolongkan sesuai dengan usia. Anda dapat menyesuaikan dengan tektur yang sesuai, selain itu bahan makanan untuk bayi harus dapat anda sesuiakan dengan usia bayi anda untuk menghindari masalah pencernaan atau alergi pada bayi.
3. Pemberian yang bertahap
Makanan pada bayi pertama kali memang diharuskan berupa tektur yang lembut seperti bubur susu kemudian secara bertahap pada makanan kasar seperti tim atau anda dapat menyajikan menu keluarga anda. Dalam pemberian secara bertahap terkadang kali anak anda memuntahkan. Memuntahkan makanan yang dilakukan pada bayi dapat digolongkan beberapa kondisi diantaranya adalah bayi kurang mendapatkan stimulasi sehingga belum mahir ketika mengunyah dan langsung ditelan.
4. Berikan contoh pada usia bayi pandai meniru
Taukah anda bahwa anak anda memiliki kemampuan untuk merekam dan meniru kebiasaan keluarga anda. Sehingga kemampuan yang dapat distimulasi pada anak anda adalah dengan memberikan contoh pada anak bagaimana kebiasaan anda makan. Pada saat itu anak anda akan merekam semua kebiasaan sehingga dapat menjadi proses pembelajaran dalam memberikan tahu cara mengunyah dan menelan.

Dari semua kesimpulan ketika melatih keterampilan makanan pada anak anda salah satu yaitu dengan memberikan stimulasi sesuai dengan usia bayi. Pemberian makanan yang sesuai dapat menjadi salah satu cara dalam menstimulasi anak anda. Apabila anak anda mengalami kesulitan dalam keterampilan makanan, mengunyah dan menelan pada usia anak anda melebihi sembilan bulan lebih maka anda dapat memberikan makana yang mampu diterimanya akan tetapi bukan berarti terus menerus diberikan makanan yang bertekstur lembut seperti bubur, kenalkan dengan variasi yang menarik menu makanan yang sesuai denga usianya.

4 Hal Penting yang Harus Diketahui Saat Mengganti Popok Balita

Ketika bayi berusia sekitar 24 bulan, biasanya bayi telah memiliki kemampuan fisik dan bahasa yang dibutuhkan untuk berlatih ke kamar kecil. Namun meski demikian, popok masih saja menjadi kebutuhan pokok yang tidak terpisahkan bagi kebanyakan bayi dengan usia 2 tahun ke atas.

Berikut 4 hal penting yang harus diketahui ketika mengganti popok balita
1. Pilihlah Lokasi Penggantian Popok yang Benar
Seorang balita yang berganti popok dimeja kecil tempat biasa ia mengganti popoknya dulu, mungkin akan sering menggeliat, ketika banyak pergerakan dari si balita, maka beban pada meja yang ia tumpangi akan semakin besar yang membuat meja yang ia tumpangi menjadi tidak sepadan dengan resiko jatuhnya. Untuk itulah, lebih baik ganti dengan alas di lantai. Selain itu, menggantinya dilantai akan mempermudah anda. Namun sebaiknya, pilihlah lokasi penggantian popok yang pantas, anda mungkin sudah terbiasa dengan popok yang sudah penuh, sampai-sampai melupakan jika tak semua orang disekitar anda sama terbiasanya dengan anda.

2. Perhatikan Ukuran Popok Berubah dengan Cepat
Sebelum anda memutuskan untuk membeli persediaan popok yang super banyak, ada baiknya pastikan terlebih dahulu jika anda mendapatkan ukuran popok yang sesuai dengan ukuran balita anda. Anak-anak tumbuh dalam tingkatan yang tidak sama dimana penilaian berdasarkan berat tubuh akan lebih sesuai dibandingkan dengan usia dalam menentukan ukuran popok. Untuk itu, ada baiknya simpan dan ketahui berat bobot bayi sebelum memutuskan memborong popok bayi. Jika anda belum yakin dengan berat tubuh bayi anda, ada baiknya lakukan penimbangan dirumah. Apabila bayi belum bisa berdiri tegak diatas timbangan, timbang berat badan anda dan bandingkan dengan berat badan ketika menggendongnya

3. Segera Atasi Jika Timbul Ruam
Jika balita yang mengenakan popok kemudian timbul ruam merah akibat iritasi, perlakukan hal yang sama seperti saat ia masih kecil. Segera oleskan dengan salep anti ruam. Selain itu, amati pula pertanda kemungkinan infeksi seperti demam, bisul, ruam yang menyebar keluar popok. Jika anda menemukan salah satunya, ada baiknya segera tanyakan obatnya ke dokter.

4. Jangan Abaikan Popok yang Kotor
Saat popok basah tak mengganggu anak, biasanya orang tua cenderug akan membiarkannya lebih lama. Apalagi komponen gel penyerap yang ada pada popok dapat menjaga cairan agar tidak merembes ke bagian bawah bayi. Hal ini malah membuat kita semakin keenakan membiarkan anak yang tidak mengeluh dengan popok basahnya. Namun hal ini, sebenarnya keliru, popok yang basah masih tetap bisa menyebabkan ruam muncul pada bayi. Untuk itulah, sebaiknya jangan abaikan popok yang basah, meskipun anak tak merasa terganggu karenanya.
Itulah dia 4 hal yang penting yang harus diperhatikan ketika mengganti popok balita. Mengganti popok kerap kali menjadi kegiatan yang kurang disenangi bayi. Membuatnya menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan untuk bayi adalah strategi yang harus anda lakukan. Ajaklah bayi berbicara dan mengobrol selama penggantian popok berlangsung agar ia menjadi lebih tertarik atau berikan ia mainan yang disukainya agar ia menjadi diam dan asyik dengan apa yang ia pegang. 

5 Kegiatan Yang Baik Untuk Balita Hiperaktif

5 Kegiatan Yang Baik Untuk Balita Hiperaktif
Saat anak menginjak usia balita, dimana mereka baru bisa berjalan dan berlarian kesana-kemari. Mereka akan cenderung tak bisa diam dan menjadi hiperaktif, seolah anak-anak ini memiliki banyak energi dan tak pernah merasakan lelah. Kondisi ini amat sangat normal terjadi pada balita karena mereka baru saja menemukan kebahagiaan karena dapat berjalan dan ingin menjelajahi segala sesuatu.
Saat bayi anda berubah menjadi seorang anak yang bisa berjalan dan berlarian di sekitar, sebagai orang tua, anda dituntut untuk bisa tetap menjaga dan membuatnya terlindungi tanpa menghilangkan keceriaannya dalam bereksplorasi. Saat anak anda memasuki fase ini, ketelitian dan kesigapan anda dalam mengawasi balita dituntut untuk lebih extra. Namun mengarahkan keaktifannya pada sebuah kegiatan yang bermanfaat tentu akan bermanfaat banyak untuk stimulasi otak dan membantu anak untuk mengubah energi mereka menjadi kegiatan yang lebih produktif dan positif.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang baik untuk balita yang hiperaktif :

1.    Berolahraga
Untuk anak-anak yang hiperaktif, kegiatan fisik akan sangat bermanfaat, selainenerginya dapat tersalurkan, olahraga juga bisa dijadikan sebagai media untuk menstimulasi otaknya. Untuk itu, ajarkan anak untuk belajar satu olahraga seperti skating, sepakbola, bersepeda atau berenang. Pada umumnya, anak-anak akan menyukai olahraga berenang karena kegiatan ini dilakukan di dalam air yang akan membuat anak riang dan gembira. Namun tentunya, selalu pastikan jika anda memberikan peralatan keselamatan yang tepat untuknya.
2.    Bermain Diluar Ruangan
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa balita hiperaktif tidaklah bisa diam, biasanya mereka akan berjalan dan berlarian kesana kemari, menyentuh barang-barang yang akan membuat rumah menjadi berantakan. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk sesekali mengajak mereka bermain di luar seperti taman bermain atau playground. Selain itu, kegiatan bermain di luar ruangan akan lebih baik untuk anak yang hiperaktif, dengan begini ekplorasi anak menjadi lebih luas. Namun tentunya, tetap dalam kondisi yang memungkinkan serta cuaca yang baik agar tidak beresiko sakit untuk anak-anak.
3.    Seni Kerajinan
Keluhan yang paling banyak disuarakan oleh para orang tua yang memiliki anak hiperaktif adalah sulitnya membuat balita hiperaktif untuk bisa duduk manis dan diam di suatu tempat. Untuk mengatasi hal ini, salah satu kegiatan yang akan membuat anak tertarik untuk bisa duduk dengan manis adalah lewat seni kerajinan. Banyak seni yang bisa dikenalkan pada balita termasuk bermain drum atau kegiatan membuat kerajinan origami yang akan membuat anak lebih tertarik dengan kreasi dari kertas warna. Seni kerajinan adalah salah satu kegiatan paling baik untuk anak-anak yang hiperaktif karena hal ini juga mampu meningkatkan kecerdasan otaknya.
4.    Kelas Menari
Belajar menari bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk anak balita. Bukan hanya terbatas anak perempuan saja yang bisa mengikuti kelas tari, anak laki-laki juga bisa diikut sertakan pada kelas tari khusus laki-laki atau kelas campuran. Untuk itu, jika anda sering melihat si kecil menari-nari atau menyukai tarian. Kelas menari bisa menjadi media yang baik untuk menyalurkan bakat yang dimilikinya. Menari akan meningkatkan postur dan fleksibilitas tubuh anak. Selain itu kegiatan ini juga membantu kalori dalam tubuh mereka terbakar dengan cepat dan dapat membuat mereka tidur lebih cepat.
5.    Latihan Fisik
Anak-anak yang hiperaktif cenderung memiliki energi yang lebih besar dibandingkan anak-anak lainnya. Untuk menyalurkan energinya kea ah yang lebih baik latihan fisik adalah cara yang baik. Hampir semua kelompok bermain saat ini memiliki latihan fisik yang terstruktur dengan baik. Untuk itu, tidak ada salahnya masukan anak ke kelompok bermain. Ketika anak-anak berada dalam sebuah kelompok, mereka akan cenderung lebih mudah untuk menuruti perintah. Selain itu, energi anak akan tersalurkan pada arah yang lebih baik, melalui kelompok bermain, kegiatan ini juga dapat mengajarkan keterampilan bersosialisasi dengan rekan-rekan seusianya dan bermain secara berkelompok.
Berikut adalah beberapa kegiatan untuk anak-anak hiperaktif. Mugkin masih banyak lagi cara-cara yang bisa dilakukan untuk balita hiperaktif yang dapat anda aplikasikan. Memasukan anak ke sekolah playgroup juga dapat dilakukan untuk mengarahkan energinya kearah yang lebih baik, karena pada dasarnya potensi yang dimiliki oleh anak hiperaktif sama potensialnya dengan anak-anak lain, hanya saja menghadapi anak hiperaktif akan sedikit lebih sulit dibandingkan dengan anak lainnya. Namun jumlah tingkat aktibitas yang baik bisa menandakan bahwa anak anda sehat.

Penanganan Pertama Bila Balita Diare

Berikut tip dari WHO perihal penanganan pertama yang bisa kita lakukan menghadapi anak diare.

1.Berikan cairan atau minum dan makan. ASI, kuah sup, air tajin dari beras, jus buah segar, air kelapa dan air putih bersih dari sumber yang aman, dapat menggantikan cairan yang sudah terbuang saat anak BAB. Jadi, susui anak lebih sering dari biasanya. Jika anak sudah tidak dapat ASI, sesring mungkin beri cairan dengan ukuran:
  • Anak di bawah 2 tahun: seperempat atau setengah mangkuk ukuran 250 ml.
  • Anak di atas 2 tahun: setengah hingga satu mangkuk ukuran 250 ml.
Jika anak muntah, sebaiknya tunggu hingga 10 menit, kemudian mulai lagi memberinya minum secara perlahan dan sedikit demi sedikit.
 
Makanan tetap harus Anda berikan pada anak yang sedang diare. Meskipun ia menolak, usahakan agar anak mau makan sedikit namun sering. Fungsinya, memberi energi yang surut ketika anak diare serta membantu anak tidak kehilangan berat badan berlebihan. Makanan yang dianjurkan adalah yang lunak, seperti bubur nasi, bubur kacang hijau, ikan atau daging yang dimasak hingga lembut.

2. Larutan oralit. Oralit merupakan kombinasi antara garam dengan air putih. Fungsinya membantu tubuh menggantikan cairan yang hilang akibat diare. Anak di bawah 2 tahun membutuhkan seperempat hingga setengah mangkuk oralit, usai ia BAB cair. Gunakan ukuran mangkuk 125 ml. Sedangkan untuk anak di atas dua tahun berikan setengah hingga satu mangkuk oralit.

3. Larutan gula dan garam. Larutan air putih dengan enam sendok teh gula yang dicampur dengan setengah sendok teh garam bisa Anda buat bila tidak ada larutan oralit. Berikan larutan ini seperti Anda memberikan larutan oralit.

Segera ke Rumah Sakit, bila:
- Diare berlangsung lebih dari 12 jam.
- Beberapa kali mengeluarkan tinja cair dalam 1 jam.
- Tinja yang keluar berwarna kemerahan, artinya bercampur darah.
- Sering muntah-muntah.
- Tubuh anak demam hingga lebih dari 39 derajat Celcius.
- Anak haus tapi menolak ketika diminta minum cairan atau air.
- Kedua mata cekung ke arah dalam.
- Tubuh sangat lemas, bahkan sampai tidak memiliki tenaga.
- Sering mengantuk atau tidak merespons Anda.

Tahapan Perkembangan Balita


Umur 0 – 3 bulan
  • Mengangkat kepala setinggi 45 derajat
  • Menggerakan kepala dari kiri/kanan ke tengah
  • Melihat dan menatap wajah anda
  • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
  • Suka tertawa keras
  • Bereaksi terkejut terhadap suara keras
  • Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum
  • Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
Umur 3 – 6 bulan
  • Berbalik dari telungkup ke telentang
  • Mengangkat kepala setinggi 90 derajat
  • Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil
  • Menggenggam pensil
  • Meraih benda yang ada dalam jangkauannya
  • Memegang tangannya sendiri
  • Berusaha memperluas pandangan
  • Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
  • Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil
  • Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik
  • Tersenyum ketika melihat mainan/gambar menarik saat bermain sendiri
Umur 6 – 9 bulan
  • Duduk (sikap tripoid – sendiri)
  • Belajar berdidir, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan
  • Merangkak meraih mainan atau mendekatai seseorang
  • Memindahkan benda sari satu tangan ke tangan lainnya
  • Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada saat yang bersamaan
  • Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup
  • Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatata
  • Mencari mainan/benda yang dijatuhkan
  • Bermain tepung tangan/ciluk ba
  • Bergembira dengan melempar benda
  • Makan kue sendiri
Umur 9 – 12 bulan
  • Mengangkat badannnya ke posisi sendiri
  • Belajar berdiri selama 30 detik atau berpengangan di kursi
  • Dapat berjalan dengan dituntun
  • Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
  • Menggenggam erat pensil
  • Memasukan benda ke mulut
  • Mengulang menirukan bunyi yang didengar
  • Menyebut 2 – 3 suku kata yang sama tanpa arti
  • Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja
  • Bereaksi terhadap suara yang perlaha atau bisikan
  • Senang diajak bermain ciluk ba
  • Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum kenal
Umur 12 – 18 bulan
  • Berdiri sendiri tanpa berpegangan
  • Membungkuk memungut mainan kemudian beridiri kembali
  • Berjalan mundur 5 langkah
  • Memanggil ayah dengan kata papa, memanggil ibu dengan kata mama
  • Menumpuk dua kubus
  • Memasukan kubus di kotak
  • Menunjuk apa yang diiinginkan tapa menangis/merengek. Anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu
  • Memperlihatkan rasa cemburu/bersaing
Umur 18 – 24 bulan
  • Berdri sendiri tanpa berpegangan 30 detik
  • Berjalan tanpa terhuyung-huyung
  • Bertepuk tangan, melambai-lambai
  • Menumpuk 4 buah kubus
  • Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
  • Mengggelindinkan bola ke arah sasaran
  • Menyebut 3 – 6 kata yang mempunyai arti
  • Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga
  • Memegang cangkir sendiri, belakar makan- minum sendiri
Umur 24 – 36 bulan
  • Jalan naik tangga sendiri
  • Dapat bermain dean menendang bola kecil
  • Mencoret-coret pensil pada kertas
  • Bicara dengan baik, menggunakan 2 kata
  • Dapat menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya ketika diminta
  • Melihat gambar dan dapat menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih
  • Membantu memungut mainannya sendiri atau tampa membantu
  • Mengangkat piring jika diminta
  • Makan nasi sendiri tanpa banyak tumpah
  • Melepas pakaiannya sendiri